PJJ

Lokakarya Pendidikan Jarak Jauh

Sesi Pembicara Materi Audio/Video
Pembukaan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec.  Video
Konsep Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) sesuai dengan Permendikbud No. 109 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan PJJ Ridwan Roy Tutupoho, S.E.,S.H.,M. (Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan)  PDF Video
Penerapan Program PJJ & PDTT di Perguruan Tinggi. Studi Kasus STMIK AMIKOM Yogyakarta (APTIKOM) Prof. Dr. Ir. R. Eko Indrajit, M.Sc, MBA, MIT, MA  PPTX Video
Konsep Elearning Studio di Perguruan Tinggi Arief Bahtiar, MT(Ketua Comlabs USDI – ITB, Koordinator e-Learning)  PDF Audio
Pengembangan Konten Mata Kuliah PJJ Prof. Dr. M. Suyanto, MM (Ketua STMIK AMIKOM Yogyakarta)  PPTX Audio

Catatan Penting:

Acara ini dihadiri oleh kurang lebih 72 peserta dari unsur pimpinan APTISI dan dari sejumlah pendidikan tinggi yang ada di daerah seperti Universitas Kristen Papua, Universitas Bhayangkara Jakarta, UHAMKA, Universitas Prof. DR. Husein Bengkulu, STIKES Paramadina, Universitas Tama Jagakarsa, Universitas Islam Bandung, Univesitas Islam Jakarta, STIKES Abdi Nusantara Jakarta, Universitas Darma Persada, Universitas Batanghari Jambi, STIKOM LSPR Jakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Pembangunan Panca Budi Medan, USAHID Jakarta, Universitas Bina Darma Palembang, STMT Trisakti, Universitas Satya Widya Mandala Nabire Papua, Universitas Respati, Universitas Abdurachman Saleh Situbondo, Universitas Lancang Kuning, Universitas Bunda Mulia, IPMI Business School, Universitas Bunda Mulia, President University, Universitas Putra Indonesia, USNI, UIJ, Universitas Kader Bangsa Palembang, STIAMI, UKRIDA, Universitas Satyagama, Universitas Ibnu Chaldun Bogor. Ada juga kampus yang dari Tangerang seperti UNPAM, UMN, Uversitas Surya, Universitas Indo Global Mandiri.

Tidak setiap perguruan tinggi bisa menyelenggarakan pendidikan jarak jauh sebab secara formal harus terakreditasi program studi A atau B, disamping itu perguruan tinggi harus memiliki sistem pengelolaan dan pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi, memiliki sumber daya manusia, sarana prasarana, sertaunit sumber belajar jarak jauh. dalam PJJ ada proses pendidikan sangat terbuka tanpa ada batasan usia, tahun ijazah atau yang lainnya, namun mahsiswa dituntut mandiri untuk melakukan pendalaman atas apa yang dipelajari.

Menurut Kepala Subdit Pembelajaran dan Kemahasiswaan harus memenuhi syarat dan mendapat ijin sesuai dengan permendikbud No. 109 Tahun 2013 tentang PJJ sesuai dengan SNPT, yaitu ruang lingkupnya seputar Program Studi  dan mata kuliah.

Ijin kementerian diberikan jika prodi memenuhi standar 50 persen dari jumlah keseluruhan mata kuliah (Ijinnya adalah Ijin kementerian).

Jika dalam proses pembelajarannya kurang dari 50 persen mata kuliah, boleh diselenggarakan oleh perguruan tinggi namun cukup ijin rektor dan melapor kepada kementerian.

Adapun jika ingin pengusulan dan mendapat ijin kementerian, jika diterima akan ada 3 evaluasi yaitu (1) evaluasi administrasi: melihat apakah persyaratan sudah terpenuhi, (2) evaluasi kelayakan dan validasi (3) ijin diberikan.

Proposal Program Studi Jarak Jauh dapat di download website Silemkerma Dikti. Proposal dapat diupload secara online disini

Karena dalam PJJ tidak ada rasio dosen, maka laporan Epsbed PJJ akan dipisah dengan epsbed reguler. Saat ini sudah terbentuk BAN PT khusus untuk PJJ.

Adapun Prof Eko sharing pengalaman dalam menjalankan PJJ APTIKOM dan PDITT AMIKOM. PJJ APTIKOM dan PDITT AMIKOM. Lingkupnya adalah khusus bagi DOSEN INFORMATIKA yang masih belum memiliki kualifikasi akademik pendidikan Magister melalui pendekatan PJJ dengan mode e-Learning. Menggunakan Konsorsium yaitu sejumlah anggota APTIKOM se-Indonesia bekerjasama membentuk KONSORSIUM menyelenggarakan program magister ini. Jadi PJJ yang diselenggarakan oleh APTIKOM bukan untuk umum.

Menurut Prof Eko walaupun DOSEN INFORMATIKA sebagai mahasiswa yang mengikuti PJJ APTIKOM tersebut banyak yang belum familiar dengan IT.

Prof Eko share bagi yang ingin mengembangkan e-Learning untuk standar Internasionalnya yaitu:

  • ISO 29163 (Mutu Modul). Lebih kepada bagaimana standar mutu bahan ajar.
  • ISO 19796 (Mutu Proses). Lebih kepada mutu penyelenggaraannya.

Menurut Prof Eko untuk mendapatkan modul ini sepertinya tidak gratis (kurang lebih sekitar 10 jutaan, namun Prof Eko berpesan kepada APTISI untuk mendapatkannya bisa melalui APTISi dan APTISI dapat mengshare ke perguruan tinggi anggota.

Untuk standar Nasional sendiri saat ini masih dalam bentuk draft yang masih disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) PJJ sendiri dan masih uji publik. Menurut Prof Eko untuk standar nasional PJJ ini pun mengacu pada dua ISO tersebut diatas yaitu ISO 29163 dan ISO 19796.

Pilot Project Tingkat Nasional tentang PJJ ini menurut Prof Eko dibagi 4 yaitu:

  • Modus Tunggal : Universitas Terbuka
  • Modus Ganda : Kampus Peringkat Tinggi TESCA
  • Modus Konsorsium : APTIKOM, SEAMOLEC
  • Modul Kombinasi : PDITT (Kuliah Daring)

Prof Eko juga sharing tentang situs PJJ APTIKOM yang dibangun menggunakan Moodle. Yang dishare seputar proses bisnisnya, mata kuliah bersama yang disusun oleh dosen dari anggota APTIKOM saat ini jumlah mata kuliahnya sekitar 30 mata kuliah yang sudah online, ragam format materi disiapkan ini mengantisipasi jumlah bandwidth tiap wilayah di Indonesia berbeda dikategorikan low, medium atau high, disiapkan juga repositori untuk video kuliah. Pengalaman Prof Eko tentang Video kuliah ini jangan diletakkan di moodle karena kalau diletakkan di moodle akan hang, untuk video dapat diletakkan di youtube. Ada juga ragam evaluasi berbentuk essai dan pilihan ganda, atau berbentuk pemetaan, bank soal, diskusi interaktif, bentuk diskusi, pelaksanaan ujian tengah dan akhir semester, hasil test online dan ada juga sebaran hasil test. Jadi seluruh aktifitasnya dapat dlihat disana semua termasuk Prof Eko menunjukkan rekam jejak aktifitasnya (dalam bentuk log) dan ada juga catatan aktifitas dosen (dalam bentuk log).

Untuk PJJ APTIKOM sendiri menggunakan perkuliahan Singkronus, maksudnya adalah perkuliahan penggunaan VMEET yaitu adanya tatap muka yang terjadwal antara dosen dan mahasiswa yang dilakukan melalui video conference.

Prof Eko share juga tentang website yang digunakan untuk mendukung PJJ yang beliau buat http://preinexus.com/

Selanjutnya P Arif Bachtiar menyampaikan materi lokakarya tentang Konsep Elearning Studio untuk Pengembangan Konten PJJ berbasis Multimedia.

Menurut P Arif bahwa musuh utama dari PJJ itu sendiri adalah proses distraksi (mahasiswa tidak fokus pembelajarannya) (doc suara menit 0:40) maka perlu adanya metodologi supaya orang fokus hanya sanya satu halaman saja.

Yang paling penting adalah konten (Content is King). Yang penting itu sendiri konten itu sendiri adalah bagaimana menggunakan konten dan harus ada interaksi dan percakapan terhadap konten itu sendiri.

Issue yang ada di ITB kaitannya dengan e-Learning Issue yang pertama adalah adanya pergantian kurikulum atau penyempurnaan kurikulum yang setiap 5 tahun, jadi adanya proses untuk pemutakhiran pembelajaran. Persoalan yang muncul adalah ketika akan ada pemutakhiran pembelajaran yaitu perlu adanya referensi. Referensi itu dari mana? akhirnya referensi itu hanya ada di dosen (pengampu pembelajaran) tidak ada di satu halaman, di satu database, disatu record yang kemudian bisa untuk backmark. Kemudian e-Learning membantu menyediakanbackmarking antara satu pembelajaran dengan pembelajaran yang lain sehingga dapat dikelompokkan, difilter, jadilah database pembelajaran. Issue yang kedua adalah AKREDITASI. Pada saat ITB melakukan AKREDITASI internasional dengan update maka disana ada self asessment mulai dari berlakukan proses yang berjalan yang dilaksanakan oleh prodi tersebut mulai dari learning outcome, permata kuliah ada learning outcome kemudian bahan materialnya, strategi penyampaiannya sampai dengan  evaluasinya. Pada saat update yang pertama ada dimasing-masing dosen akibatnya ITB kesulitan untuk mengumpulkan mengakses membuatkan satu dokumen yang bisa direlease. Tapi kemudian dengan adanya e-Learning pada saat assement datang kita bisa langsung tunjukkan ini bahan kami, ini enrollment kami prosesnya dan ini assesmentnya sampai dengan hasil evaluasinya itu bisa kita tunjukan. Dan itu sangat membantu proses akreditasi yang ada di ITB. Kemudian yang ketiganya adalah hampir setiap tahun ada sepuluh guru besar yang pensiun, tentu saja ini merupakan kerugian bagi ITB dikarenakan apa knowledge yang ada di masing-masing expert ITB itu kemudian hilang atau berkurang satu demi satu padahal disana ada pengalaman yang luar biasa baik dari penyampaian materinya, bahan substansinya sampai proses pembelajaran yang diikutinya. Dan ini sangat merugikan dari sisi kekayaan intelektual itu sendiri. Kalau perguruan tinggi kekayaan inteletualnya ada pada dosen. Setiap semester mengajarkan mata kuliah, jumlah minggunya sekurang-kurangnya 14 minggu + ujian dan seterusnya, kalau Bapak/Iburekam satu semester satu dosen ada 14 konten yang kita publikasikan online, misalnya dapat satu prodi ada 10 dosen persemester kali dua dikali sekian maka dalam setahun sekurang-kurangnya kita memilki 1200 bahan pembelajaran. Kalau misalkan kita kumpulkan bahan ajar dengan baik  maka urusan webometricsselesai, urusan penyediaan bahan selesai, urusan banchmark selesai. Tapi sayang itu TIDAK kita lakukan. Coba diantara kita semua ada berapa giga hardisk yang isinya bahan ajar. kecil sekali. di ITB sendiri terdapat 103 bahan ajar itupun masih kurang. Setiap tahun pertambahannya memang ada tapi skalanya masih sangat kecil. Inilah yang menjadi kurang, karena record (rekam bahan ajar) institusi menjadi tidak ada. Ketika ada dosen-dosen yang hadir ke ITB untuk studi banding muncul sebuah istilah tolong titip kalau bertemu dengan pimpinan perguruan tinggi tolong diperhatikan karena e-Learning adalah ibaratnya capture knowledge yang ada dibapak ibu (dosen) sekalian kemudian mengarsipkannya, menyimpannya, merecordnya, memeliharanya, mengumpulkannya, mengkategorisasi kemudian mempublikasikannya. Kalau itu ada ketika di search tentang “ekonomi” maka akan muncul bahan mata pelajaran tentang ekonomi begitu juga dengan mata kuliah yang lain itu sangat luar biasa.

Dan yang ketiga issue PDITT itu sendiri, sejak bulan April tahun kemarin, ITB mendapat Mandat DIKTI untuk menyelenggarakan program studi PJJ tetapi di ITB itu ada self akademik ketika ITB mengajukan prodi PJJ maka disana di evaluasi habis-habisan mulai dari sarananya (teknologinya), dari substansinya kemudian dari penyampaiannya, dari mahasiswanya sampai dengan saat ini belum tuntas. akhirnya masih menunggu prosesnya supaya ini bisa keluar bisa program studinya. Tapi ada satu bagian yang kemudian yang ITB jalankan yaitu pembelajaran DARING Indonesia Terbuka Terpadu. Kalau dulu setiap mahasiswa yang ikut mata kuliah yang ada di ITB itu harus mendaftar diri menjadi mahasiswa ITB tapi sekarang ITB menyediakan mata kuliah-mata kuliah dimana mahasiswa dari Perguruan Tinggi yang lain itu bisa mendapatkan nilai dari dosen ITB. Dan saat ini sedang membangun dan sedang dikembangkan sistemnya kemudian bagaimana mekanisme enrollnya sehingga nanti siapapun yang memang berminat untuk mengikuti pembelajaran dari ITB itu bisa dipersilahkan. Nah itu adalah program dari PDITT.

Terkait dengan konten itu sendiri (menunjukkan situs PDITT) memulai dari proses, pada saat ITB menjalankan PDITT maka disana ITB diberikan atau dievaluasi proses pembelajarannya mulai dari proses enrollment, jadi ketika disana mulai masuk mata kuliah maka mahasiswa tadi mulai enroll kemudian berikutnya lagi ada bahan materinya apakah sudah siap atau belum ketika di lock atau tidak, dipublish online atau tidak dan seterusnya itu dilakukan evaluasi. Kemudian disini juga ada skema pembelajaran durasi 14 minggu ada assesment ada tugas dan ujian ada juga interaksi online. Selain itu juga disediakan forum diskusi dimana ketika mahasiswa pada persoalan yang dihadapi pada mata kuliahnya maka yang bersangkutan disediakan wadah atau disediakan media untuk bertanya. Karena asumsi dari PDITT ini adalah asinkronus. Jadi ITB berasumsi metode pembelajaran masih asinkronus dimana disana mahasiswa disediakan bahan. Jadi ibaratnya dulu mahasiswa berinteraksi dengan dosennya nah sekarang duluan lebih dulu berainteraksi dengan halaman webnya.

Bayangkan mahasiswa yang ada di ITB saja itu bertatap muka dengan dosen kemudian ada bahan ajar yang dipublikasikan secara online tapi hasilnya A sampai E selalu muncul. Sekarang orangnya tidak pernah bertemu dengan dosen kemudian standar pembelajaran itu tidak boleh beda, nah bagaimana prosesnya supaya hasil pembelajaran itu standar. (nilai) A yang dikeluarkan kepada mahasiswa PDITT dengan (nilai) A yang dikeluarkan dengan mahasiswa yang langsung di tempat kami (ITB) itu harus sama. dan ini menjadi PR cukup besar bahkan dateline issue kami yang cukup itens, jadi terkait dengan hasil pembelajaran. Nah ini ditunjang dengan penilaian, tugas, ujian dan juga ada penerbitan sertifikat. Jadi sarana PDITT adalah proses pembelajaran itu sendiri. Bagaimana mencapture, bagaimana supaya learning outcome itu bisa sukses bisa dicapai maka strateginya seperti apa.

Nah penyiapannya sendiri kami dipandu di tim PDITT mulai dari penentuan mata kuliah dan dosennya. Jadi assignnya ada dua yaitu mata kuliah dan dosen pengampunya. Kemudian disana ada tim yang membuat kerangka modul pembelajaran terdiri narasumber ada tim yang menangani pasca desain. Kemudian masuk ke pembuatan modul pembelajaran dosen diharapkan tidak diberikan beban untuk producing. Jadi sebaiknya memang ada satu tim yang nantinya ditugaskan untuk membuat produksi dari sisi pamer digitalnya. Sehingga tidak tercampur antara kebutuhan penguasaan software dengan technical dengan substansinya.

Kemudian ada juga jaminan mutu modul dan jaminan penyelenggaraan operasional. Bahan yang sudah selesai tadi kemudian dipublish. Klasifikasinya sebenarnya tinggal kita hitung misalkan saja nanti dikelas dibuka tanggal sekian maka kita bisa jadwalkan kemudian bisa diuploadkan jadi sekali konten itu bisa dihasilkan sebenarnya kita lumayan lebih lega jadi mereka tinggal kita arahkan ke linknya akses ke websitenya masuk dan mereka tinggal mengikuti pembelajaran. Nah kelebihannya disini adalah ketika mengcloudkan satu sistem maka setiap data aktifitas yang dilaksanakan setiap data hasil pembelajaran itu bisa kita rekam kita simpan didatabasenya kemudian bisa digunakan untuk pembuatan transkrip nilai untuk mahasiswanya itu sendiri. Baik mahasiswa ataupun dosen semuanya sama jadi kita bisa tracking bagaimana proses pembelajaran yang dijalankan dengan sistem ini.

Nah sebenarnya disinilah rangkaian bagaimana konten kita dapat terpublikasikan secara online tahap awal adalah web capture, jadi ada narasumber yang kemudian bertugas menjadi expert dibidang substansinya kemudian nanti yang bersangkutan menyampaikan kira-kira bahan ajar ini akan diberikan kepada mahasiswa formatnya seperti apa, tugasnya seperti apa. Itu menjamin bahwa capaian pembelajaran itu bisa diperoleh oleh masing-masing peserta didik.

Materi dilanjutkan oleh Prof Suyanto. Prof Suyanto menjelaskan bahwa dari mana PJJ kita (STMIK AMIKOM JOGYAKARTA) mulai? jawabannya adalah yaitu mulai dari Visi Misi perguruan tinggi itu sendiri. Mengapa harus PJJ? dari sini jelas profile lulusan kita seperti apa, kalau ITB jelas profile lulusannya bagus sekali, karena inputnya juga bagus sekali tapi kalau kami (STMIK AMIKOM JOGYA) inputnya sebenarnya mahasiswanya standarnya dibawah tapi bagaimana kita poles menjadi sesuatu yang luar biasa maka pahala kita lebih besar dari ITB. Kurang lebih tempat bapak/ibu sama seperti kampus saya (STMIK AMIKOM JOGYAKARTA) kalau swasta memang seperti itu. Nah dari profile ini kita turunkan capaian pembelajaran, capaian belajar dan sebagainya yang sudah dijelaskan oleh Prof Eko dan P Arif Bachtiar. Saya akan menjelaskan lebih ke konten. Jadi ini penting sekali menyampaikan sedikit supaya bapak ibu agak mengikuti.

Kami adalah perguruan tinggi  (STMIK AKAKOM JOGYAKARTA) yang biasa-biasa saja menurut saya (Prof Suyanto). Tetapi ada sesuai yang punya tujuan yang luar biasa. Ini perguruan tinggi biasa yang mempunyai tujuan yang luar biasa. Kalau ITB perguruan tinggi yang luar biasa yang punya tujuan sangat luar biasa. Kita menggunakan model yang namanya ENTREPRENEUR UNIVERSITY.

Jadi PJJ itu visi (STMIK AMIKOM JOGYAKARTA) kita yang akan datang akan menuju internationalization. Tahap Pertama Indonesialisasi, jadi kita menjadi perguruan tinggi kompetitif (harapannya), kemudian higher innovation, research excellence, tapi saya yakin perkara intellectual property (IP) mungkin ITB akan kalah dengan STMIK AMIKOM untuk jangka panjang tapi kalau Journal dijamin ITB menang tetapi kalau IP kemungkinan bisa mengalahkan ITB. Nah kenapa bisa seperti itu? ini yang akan dibuka oleh Prof Suyanto.

Jadi kalau Jurnal bicara kalah dosen kita sangat kecil, tapi kalau IP kita tidak akan kalah karena kita akan produksi intellectual propertyright minim itu satu tahun 40 IP, jadi kita sangat luar biasa giat. Baik maka itu akan menjadikan diverse revenue flow ini yang akan membedakan. Jadi dari PPJ ini sampai internationalization sampai sedikit ya ini visi karena kita coba sedikit ya kan menambah supaya bapak ibu punya pemikiran yang baru mengelola sebuah perguruan tinggi. Jadi kita akan mendapat pendapatan dalam jangka 2030 lebih dari 75% dari research and services. Nah ini aneh kan perguruan tinggi swasta kok pendekatannya dari research and services. Pasti bapak dan ibu akan bertanya-tanya dan ini adalah salah satu senjata yang kita (STMIK AMIKOM JOGYA) pakai adalah PJJ ini. Kemudian kaitannya denganlearning organization inilah yang arahnya ke PJJ untuk yang menuju sini, tetapi sedikit saya akan beritahu ini bapak ibu sekalian. Baik… nah…. posisi kita saat ini seperti ini jadi kalau di dalam UNESCO itu The New Dynamic Private Educationsilahkan bapak ibu mau menggunakan model yang nomor berapa. UNESCO mempunyai 11 (sebelas) model silahkan untuk pendidikan tinggi, kalau ITB saya yakin yang nomor 1 yaitu (Purely public institution with no) private element atau Bapak (bisa pilih) Public institution with with private donations atau yang nomor 8 yang dari sisi research kuat sekali itu namanya Hardvard University, yah dari Hardvard University ini kita juga belum mampu nah saya mencoba ingin memberikan sebuah model pendidikan tinggi yang kuat luar biasa. saya berikan alternatif yang terakhir yang nomor 11 namanya private entrepreneur. Contohnya UNESCO nomor 2 yaitu University Phoenix dari Amerika Serikat, kalau nomor 1 nya dari mana? Kita lihat yang nomor 1 ini dari mana? kita lihat yang nomor 1 ini STMIK AMIKOM JOGJAKARTA, kampus kami (rec audio durasi 50:50) inilah yang ingin kita bagikan kepada Bapak Ibu Sekalian. Barangkali perguruan tingginya bisa menuju kesana. Jadi kenapa kita siap PJJ karena kita innovative technology. Disana ada beberapa commercial enterprise, ada television channel, kalau mau recording, kalau mau anu ngga ada masalah, sehingga biasanya ada tim PJJ dari konsorsium itu mau recording di televisi kita. TV kita TV professional yang siap profit. Kebetulan juga kerjasama dengan KompasTV. Jadi kita punya televisi, punya radio, punya kartun production, punya sumber desain, termasuk yang mengerjakan project sistemnya Bandara Soekarno Hatta (rec audio durasi 51:45) adalah dari kami. Ngurah Rai juga dari kami. Hampir seluruh bandara besar di Indonesia, ICT nya kita yang mengerjakan. Kalau ITB yang mengerjakan itu liftnya. Jadi kita berbagi tugas, itu bagian ITB kalau kita bagian infrastruktur dan ICT nya untuk Soekarno Hatta. Termasuk kalau Bapak Ibu kemarin tau di Surabaya ada kasus flight Aprroval, masalah itu Sistemnya yang buat kita Bapak Ibu. Jadi ibaratnya itu Air Asia kalau ngisi 5 form itu dia baru ngisi 4, yang satu belum diisi. Tapi pejabatnya sudah boleh terbang, nah itu saja, sehingga Pak Jonan mengatakan tidak punya ijin itu masalahnya. Kebetulan kami yang mengerjakan project itu.

Baik Bapak Ibu nah jadi kita kalau webometrics masih kecil, nomor 97 tapi kalau di Asia tenggara ya lumayan lah kalau ITB nomor 8 atau nomor berapa Pak? yah kita swasta jadi, tetapi kalau ini Bapak Ibu IP Policy kita yang sudah punya 25 tapi saat ini kita yang didaftarkan sudah mendapatkan registrasi ada 40, mungkin yang akan kita daftarkan lagi ada 50 lebih, jadi mungkin akan ada sekitar 100 yang kita daftarkan. Mungkin setiap tahun sekitar lima puluhan jadi cukup kuat disini.

International Awwardnya kita sudah mendapatkan 20 tapi kalau citation ITB juara satunya. Nah kalau ini kita juga kelemahan kita memang disini, tapi kekuatan kita akan ada disini.

Nah Spin Off, kita punya 7 perusahaan Inkubator, Academic Entreprenurshipnya cukup kuat, Science Parknya ini sedang kita tata, jadi inilah yang nanti kita kaitkan dengan Pendidikan Jarak Jauh.

Sekarang ini, 20 international Awward, Kalau nasional awwardnya sudah biasa juara tapi kebanyakan di final itu ketemunya ITB, yah kadang-kadang kita menang, kadang-kadang kita kalah, iya kan, tapi ITB biasanya banyak menangnya. Tapi kalau di Internasionalnya tidak selalu kita, tapi kadang-kadang kita juga menang. Maka kita punya 20 International Awward baik dari ICT atau dari produk-produk yang lain. Dari film juga ada. Baik nanti kita lihat.

Jadi Bapak Ibu, kalau bisa begini nih perguruan tinggi, bagaimana yang saya katakanGlobal Diverse Revenue, nah kalau Prinstone itu dari teaching dari mahasiswa hanya 20%, Hardvard 19%, Standford 12%, MIT 9%, AMIKOM memang masih 78%. Tetapi dari Research kita sudah 16% dari sisi service sudah 5%, sudah 21%. Tetapi perkiraan kita satu tahun sudah mendekati 50% ini nanti juga pengalaman kita ini kita ajarkan di PJJ. Dimata kuliah saya (Prof Suyanto) terutama. Judulnya Inovasi Produk Teknologi Informasi. Jadi bagaimana menjual teknologi informasi dari yangecek-ecek sampai yang world wide yang kelas dunia. Jadi kita ajarkan itu. Maka saya katakan bagaimana cara pengajarannya nanti?

Ini yah kan, jadi nanti kata begini kalau di Asia Tenggara kita kaya gini. Memang saat ini Nanyang yang betul-betul kita bidik. Kalau Bapak Ibu ingin kerjasama denganNanyang (University) barang kali saat ini saya kenal baik denganTechopreneurship Direkturnya Assoc Prof Hooi Den Huan. Kalau di Asia kayak gini.

 (bersambung)

By:M.Yusup

Leave a Reply